Blogger Widgets

Minggu, 26 Oktober 2014

Rusia bisa membangun kapal perang mirip Mistral



Moskow (ANTARA News) - Rusia tidak tergantung pada Prancis dalam membangun operator helikopter sendiri mirip dengan kapal induk helikopter Prancis kelas Mistral, dan mampu untuk membangun kapal perang seperti itu sendiri, kata Wakil Panglima Angkatan Laut Laksamana Muda Victor Bursuk Sabtu.

"Kami tidak tergantung pada Prancis dengan cara apapun, itu hanya salah satu kontrak kerja sama teknis-militer dan tidak lebih. Program pembuatan kapal (Rusia) direncanakan pembangunan kapal perang kelas ini, dan itu pasti akan dilaksanakan," kata Bursuk dalam satu wawancara dengan radio Ekho Moskvy.

Pada Kamis, kepala staf Kremlin Sergei Ivanov mengatakan, Rusia akan menuntut Prancis jika Paris menolak untuk menghormati kontrak Mistral.

Rusia dan Prancis menandatangani kesepakatan 1,2 miliar euro (1,5 miliar dolar AS) untuk dua operator helikopter kelas Mistral pada Juni 2011.

Kapal induk pertama, Vladivostok, diharapkan tiba di Rusia pada akhir 2014. Kapal kedua, Sevastopol, seharusnya tiba pada tahun 2015.

Penyelesaian kesepakatan tersebut telah beresiko sejak Barat mulai menerapkan sanksi ekonomi yang ditargetkan terhadap Rusia atas krisis Ukraina, demikian OANA.

Sabtu, 06 September 2014

5 Pangkalan Militer Terbesar di Dunia


Kelima pangkalan milter terbesar di dunia ini milik Amerika Serikat.
Fort Benning
(Foto: armyrotc.colostate.edu)
















5. Fort Benning
(populasi: 107.627, area : 182.000 ha)
Fort Benning dibangun di area yang dikenal sebagai "Tri-Community", di Columbus, Fort Benning, Georgia, dan Phenix City, Alabama. Pangkalan ini didirikan pada tahun 1918. Membentang seluas 182.000 hektar. Dikenal sebagai Manoeuvre Centre of Excellence, Fort Benning menjadi rumah bagi infanteri dan lapis baja.

Total populasi di Fort Benning mencapai 107.627 jiwa yang terdiri dari 27.436 tentara aktif, 6.639 komponen cadangan, 43.726 pensiunan, 21.414 tanggungan/petugas lain dll.

Awal dibangun, Fort Benning menjadi tempat pelatihan dasar untuk unit Perang Dunia I dan pangkalan ini menjadi rumah bagi 4.000 perwira dan 95.000 orang yang terdaftar selama Perang Dunia II.


Brigade artileri 17 US Army (Foto:US Army)
















4. Pangkalan Bersama Lewis-McChord (JBLM)
(populasi: 209.486, area: 414.000 ha)
Fort Lewis (Joint base Lewis-McChord) terletak di Pacifik Northwest di Puget Sound, negara bagian Washington. Mulai dioperasikan pada bulan Januari 2010 sebagai hasil konsolidasi Pangkalan Angkatan Udara Fort Lewis dan McChord.

Populasi 209.486 jiwa yang terdiri dari 27.000 militer aktif, 52.486 anggota keluarga, 10.000 warga sipil dan 120.000 pensiunan. Pangkalan ini berfungsi sebagai pusat pelatihan dan mobilisasi untuk semua layanan militer.

Lokasi yang strategis dari JBLM menjadikan unit angkatan udara mampu melakukan pengangkutan udara untuk misi pertempuran atau bantuan kemanusiaan ke lokasi manapun di dunia dengan pesawat airlifter C-17A Globemaster III, pesawat angkut/kargo terbaik Angkatan Udara AS.


Presiden AS George W.Bush mengunjungi Fort Hood, 3 Januari 2003 (Foto:US Army)















3. Fort Hood
(populasi: 217.003, area: 214.968 ha)
Terletak 60 km sebelah utara Austin dan 50 km sebelah selatan Waco, Fort Hood membentang seluas 214.968 hektar di Bell dan Coryell Counties. Fort Hood menjadi tempat terbesar bagi satuan lapis baja aktif Amerika Serikat, dan menjadi satu-satunya pos di Amerika Serikat yang mampu menampung dua divisi penuh lapis baja.

Populasi sebanyak 217.003 jiwa, terdiri dari 4.733 perwira aktif, 39.262 tentara aktif, 74.294 anggota keluarga, 89.805 pensiunan, survivor dan anggota keluarga lain, serta 8.909 karyawan sipil/NAF/lainnya.

Fort Hood didirikan sebagai rumah bagi tank-tank perusak dan senjata anti-tank selama Perang Dunia II. Sekarang pangkalan ini digunakan sebagai stasiun mobilisasi untuk komponen cadangan Angkatan Darat dan Unit Garda Nasional dan sebagai platfrom proyeksi kekuatan strategis.


101st Airborne Division Fort Campbell
(Foto:clarksvillenow.com)















2. Fort Campbell
(populasi: 234.914, area: 105.000 ha)
Fort Campbell terletak antara Hopkinsville dan Clarksville, di perbatasan negara bagian Kentucky-Tennessee. Pangkalan militer ini didirikan pada tahun 1942 dan pertama kali diaktifkan saat Perang Dunia II. Fort Campbell mengakomodasi tentara aktif di Angkatan Darat (terbesar kelima atau terbesar ketujuh untuk Departemen Pertahanan).

Fort Campbell menjadi rumah bagi Screaming Eagles of the 101st Airborne Division Air Assault, satu-satunya divisi air assault dari Angkatan Darat AS

Enam unit yang menjadi "penyewa" utama Fort Campbell adalah 5th Special Forces Group (Airborne), 160th Special Operations Aviation Regiment (Airborne), US Army Medical Activity, TN Valley District Corps of Engineer, Veterinary Command dan US Army Dental Activity.

Populasi total pangkalan ini terdiri dari 30.438 tentara, 53.116 anggota keluarga dan 151.360 lainnya termasuk purnawirawan, anggota keluarga pensiunan dan komponen cadangan.


Barak Fort Bragg
Barak Brigade 1 Fort Bragg (Foto:US Army)















1. Fort Bragg
(populasi: 238.646, area: 163.000 ha)
Fort Bragg adalah Pangkalan Angkatan Darat terbesar AS dalam hal populasi. Terletak di sebelah barat Fayetteville di North Carolina, pangkalan ini menjadi rumah bagi satuan 82nd Airborne.

Ada 52.280 tentara aktif yang bertugas di Fort Bragg, 12.624 komponen cadangan dan mahasiswa (tugas sementara), 8.757 karyawan sipil, 3.516 kontraktor dan 62.962 anggota keluarga tentara aktif. Fort Bragg juga menjadi rumah bagi 98.507 pensiunan dan anggota keluarga tentara.

Sebuah taktik perang yang cukup terbukti semasa Perang Dunia II dilahirkan di Pope Field di Fort Bragg. Dikenal juga sebagai rumah bagi "Home of the Airborne and Special Operation Force", Fort Bragg juga menjadi rumah bagi XVIII Airborne Corps dan 82nd Airborne Division, US Army Special Operations Command and dan US Army Parachute Team (the Golden Knights).

Beberapa unit lain, seperti Corps Support Command, 525th Battlefield Surveillance Brigade, 16th Military Police Brigade, 20th Engineer Brigade, 108th ADA Brigade, 44th Medical Command dan 18th Fires Brigade juga ditempatkan di Fort Bragg.

Sejarah Senapan Anti Tank



Senapan anti tank lahir di penghujung perang dunia I ketika pasukan Jerman harus menghadapi penemuan baru Inggris yaitu Tank. Karena susahnya komunikasi pada waktu itu dan sulitnya memobilisasi artileri dalam waktu cepat untuk menghadapi tank, maka diciptakanlah sebuah senjata yang relatif ringan, mudah di mobile dan mampu menembus dinding tank.


Karena Jerman adalah negara pertama yang mengetahui "business end"nya Inggris yaitu tank, maka merekalah yang pertama kali mengembangkan senjata praktis untuk melawan tank yaitu TANK ABWEHR GEWER (Senapan Anti Tank) yang dikenal sebagai MAUSER T-GEWEHR. Senjata ini pada dasarnya sama saja dengan senapan konvensional hanya saja dirancang khusus dengan amunisi yang lebih besar yaitu 13mm yang mampu menembus lapisan tank Inggris kontemporer (ketebalan sekitar 12 mm) setidaknya menyebabkan dampak/kerusakan pada kru dan peralatan tank.

Pasukan Inggris dengan .55 (13.9mm) Senapan Anti Tank BOYS
senapan anti tank rusia
Pasukan Sovyet dengan 14.5mm. Senapan Anti Tank PTRD.
T-GEWEHR menjadi pedoman untuk perkembangan senjata sekelasnya. Ukuran senapan anti tank ini terbilang cukup signifikan yaitu antara 1,5m s/d 2m atau bahkan lebih. Beberapa dari varian senapan anti tank ini mampu menembus ketebalan 300mm lapis baja pada kisaran 100m dan menjadikannnya masih cukup ampuh digunakan pada perang dunia II. Kaliber senjata ini berkisar antara 12,7 - 15mm.

senapan anti tank jerman
Tentara Jerman dengan 7.92mm Senapan Anti Tank wz.35
senapan anti tank jerman
Tentara Jerman dengan 7.92mm-39 Senapan Anti Tank PzB
Ada 2 inovasi/pemikiran untuk senapan anti tank ini. Yaitu inovasi pertama yang lebih menerapkan kecepatan peluru ketimbang kaliber. Yaitu kecepatan tembak 1100-1200m/s dengan peluru yang relatif ringan antara 12-14gr dengan kaliber 13-15mm. Tingkat recoil/hentakan mundur juga lebih rendah.Senapan anti tank jenis ini mendapat tempat di beberapa lingkup militer seperti Polandia dan Jerman pada awal perang dunia II.

Inovasi/pemikiran lainnnya lebih menerapkan proyektil yang lebih besar dan berat dengan kaliber kisaran 20mm. Kaliber yang besar memungkinkan untuk digunakan untuk beberapa jenis amunisi termasuk AP dan peledak tinggi menjadikannya sebagai pendukung infanteri yang handal. Beratnya sekitar 40-60kg dengan tingkat recoil yang tinggi pula. Satu hal, tingkat penetrasi yang rendah (lebih rendah dari inovasi pertama) menjadikannya tidak efektif untuk beberapa jenis tank seperti T-34 Sovyet, M4 Sherman dan TIII/TIV Jerman. Tapi masih tetap efektif digunakan sebagai anti tank ringan, mobil lapis baja dan kendaraan angkut personel dan parit-parit perlindungan.

senapan anti tank
Tentara dengan senapan Anti Tank Solothurn 20mm S18-100.
senapan anti tank jepang
Tentara Jepang dengan senapan Anti Tank 20mm 97
Perkembangan berbagai hulu ledak, granat anti tank dan peluncur roket pada pertengahan perang dunia ke II, membuat senapan anti tank mulai ditinggalkan. Namun, beberapa waktu kemudian senjata sejenis muncul kembali di kalangan militer tapi bukan lagi sebagai anti tank melainkan sebagai senapan sniper jarak jauh yang dilengkapi dengan optical sight.

target menembak tank dengan senapan anti tank
Target Point senapan Anti Tank

Helm Cerdas dan Seragam Untuk Tentara Masa Depan


Ilustrasi tentara masa depan
Selama 30 tahun terakhir, seragam militer telah jauh berubah. Selain menggunakan bahan baku baru, seragam militer kini dapat terhubung dengan komputer. Saat ini komputer sudah banyak tersebar di semua tingkat komando. Semua kecanggihan dari seragam, senjata dan perlengkapan personel bisa diperoleh, tinggal tergantung dari seberapa besar dana yang digelontorkan pemerintah.
Pada tahun 2025 nanti, helm militer untuk pasukan darat akan mewakili sistem pribadi yang akan digunakan untuk membawa sistem komunikasi kecil, super-ringan, plus sistem untuk bertahan hidup. Para ilmuwan Inggris dan Perancis memprediksi bahwa helm tempur di masa depan benar-benar akan menutupi seluruh kepala dan dilengkapi kamera slide-out.
Helm akan dibuat dari kevlar atau nilon balistik dengan traumatic gasket untuk melindungi tentara dari dampak peluru. Pelindung mata akan memiliki efek shading - ini akan dibuat dengan menggunakan teknologi yang sama dengan yang digunakan untuk produksi kacamata. Perisai akan berfungsi untuk melindungi mata tentara dari berkedip tiba-tiba, misalnya, saat terjadi ledakan bom/rudal atau cahaya yang kuat.
Di bagian bawah helm, di mana wajah tetap terbuka, akan dilengkapi dengan sistem filter ganda yang dipasang di sisi helm. Filter ini akan menjamin perlindungan optimal bagi tentara dari senjata kimia dan biologi, serta dari zat beracun radioaktif dan lainnya. Singkatnya, tentara akan benar-benar terlindungi dari bahaya yang kadang-kadang tidak terdeteksi.
Untuk komunikasi pribadi, helm masa depan akan memiliki mikrofon (built-in), mirip dengan helm masa kini yang digunakan oleh pilot. Untuk komunikasi darurat, untuk memberi perintah kepada sekelompok tentara, helm akan dilengkapi dengan voice box. Voice box ini akan mencakup perangkat penerjemah, sehingga seseorang bisa berbicara dengan bahasanya negaranya sendiri.
Untuk operasi di daerah gelap, seperti di dalam sebuah gedung, helm akan dilengkapi dengan sumber cahaya. Tidak perlu menggerakkan tangan (senter dll) untuk melihat, cahaya akan otomatis diarahkan ke mana tentara itu melihat. Tidak hanya itu, helm masa depan ini akan memiliki sistem minum terpadu, mirip dengan respirator tentara Inggris saat ini. Helm masa depan setidaknya akan berbobot 1,5-2 kilogram - hampir sama beratnya dengan helm yang digunakan oleh pilot helikopter militer.
Seragam tempur infanteri dari tim respon cepat akan dibuat dengan dasar teknologi all-in-one. Tidak mirip dengan seragam infanteri dan tanker modern saat ini, yang semua alat yang dibutuhkan tergantung pada sabuk. Karena desainnya yang unik, seragam ini akan dijahit secara individual untuk setiap prajurit.
Seragam tempur masa depan tidak akan lebih tebal dari setelan menyelam saat ini. Kain yang digunakan pada seragam akan memiliki struktur kapiler, dengan kandungan zat gelatin dalam bentuk mosaik yang berguna untuk melindungi seseorang dari panas atau dingin yang berlebih. Dulu, teknologi pakaian-pemanas pernah dirancang untuk para awak pesawat pembom B-17 selama Perang Dunia II.
Di masa depan, kain seragam akan memiliki sifat tahan api dan air. Seragam ini juga akan dapat berubah warna sesuai dengan lokasi misi seorang tentara. Microdots ditanamkan ke permukaan seragam, berisi pigmentasi kimia yang memungkinkan kain untuk berubah warna dan pola untuk mengaburkan siluet manusia. Teknologi ini tidak akan membuat tentara tak terlihat, tetapi akan membuatnya lebih sulit untuk dideteksi, seperti bunglon.
Perangkat ini sudah sudah dipersiapkan dan akan semakin dikembangkan, dan tidak ada alasan untuk tidak meng-upgrade seragam tentara pada tahun 2025 nanti
Sarung tangan akan sangat lembut untuk memastikan kenyamanan dalam mobilitas maksimum, dan pada saat yang sama akan cukup tebal untuk melindungi tentara dari bahan kimia. Sepatu boot akan cukup tinggi, namun akan memiliki sol lebih tebal untuk menetralkan daya kejut yang besar. Sol juga akan memiliki perlindungan terhadap bahan kimia, termasuk cairan yang dapat melumerkan plastik. Baik sepatu bot dan sarung tangan akan terhubung dengan seragam pada pergelangan tangan dan pergelangan kaki untuk memastikan perlindungan terhadap senjata nuklir. Setiap infanteri akan memakai perangkat kecil di pergelangan tangan untuk menentukan tingkat kontaminasi di lingkungan sekitarnya, termasuk tingkat radiasi.
Kantong kargo dan kantong dengan flaps akan ditempatkan pada bagian lain dari seragam. Sebagai contoh, sebuah saku di lengan kanan akan berisi pil dan suntik oksidan dengan atropin. Sebuah saku di lengan kiri akan berisi self-adhesive patch untuk memperbaiki bagian seragam yang rusak. Kantong di kaki kiri akan berisi kit pertolongan pertama, perban dan jarum suntik dengan obat penghilang rasa sakit. Kantong di kaki kanan akan berisi persediaan makanan selama 24 jam.
Ikat pinggang akan dilengkapi dengan granat dan botol air, berbagai alat dan bayonet. Ada kemungkinan bahwa pada tahun 2025, infanteri akan memiliki radar dan laser kecil namun sangat kuat. GPS akan dipasang pada lengan kanan.
Perangkat ini sudah sudah dipersiapkan dan akan semakin dikembangkan, dan tidak ada alasan untuk tidak meng-upgrade seragam tentara pada tahun 2025 nanti. Sangat menguntungkan, masing-masing infanteri akan menentukan posisinya di medan perang, sementara sang komandan dapat mengawasi anak buahnya bergerak.
Infanteri masa depan juga akan dilengkapi dengan perangkat penglihatan pada malam hari dan ransel. Senjata-senjata yang akan digunakan pasukan darat pada tahun 2025 tidak akan berbeda jauh dari senjata yang digunakan pada abad ke-20. Ada sejumlah alasan yang menunjukkan bahwa senapan serbu di masa depan akan menjadi satu standar. Ada tiga jenis senapan serbu seperti yang digunakan saat ini. Mereka adalah Steyr Pull (Austria), FAMAS (Perancis) dan SA80 (Inggris). Kaliber 5,6 mm-NATO adalah salah satu standar yang mungkin akan menjadi universal. Kemungkinan besar, senapan masa depan akan memiliki kaliber yang sama, namun dengan daya destruktif yang lebih besar.
Pada tahun 2025, senapan akan memiliki peluncur granat built-in, mungkin dari kaliber 40 milimeter, karena kaliber inilah yang paling nyaman digunakan. Divisi pejuang akan memiliki penembak jitu yang bersenjatakan senapan dan peluru smoothbore dipandu (guided). Peluncur granat akan menembakkan amunisi terprogram yang akan mampu mengubah lintasan penerbangan dan bahkan terbang di balik sudut bangunan atau langsung ke parit. (FS)